Sebuah proyek pembangunan fasilitas sanitasi telah dimulai di Beurawang pada awal Januari lalu. Proyek yang dimaksud adalah pembangunan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) plus sumur bor untuk menyokong kegunaan fasilitas umum tersebut.
Proyek ini seratus persen mengandalkan sumbangan dari para donatur. Anggaran yang dibutuhkan sesuai kesepakatan dengan kepala desa awalnya sebesar Rp25.400.000.Sempat terjadi penambahan untuk biaya pengeboran sehingga angka yang muncul mencapai Rp28.200.000.
Namun, hitungan akhir yang didapat pada saat pengerjaan sudah mendekati tahap akhir ternyata hanya mencapai Rp25.050.000.Terhitung 11 Februari 2026, pembangunan yang memakan waktu satu bulan lebih, itu rampung juga. Waktu pengerjaan terbilang lamban dikarenakan konsentrasi pembangunan yang terganggu, baik oleh cuaca, kondisi desa yang masih disibukkan oleh aktivitas pembersihan, dan hal-hal lainnya.
Adapun jumlah penerima manfaat dari pembangunan MCK dan sumur bor ini menurut Kepala Desa Beurawang, Yusra, sekitar 100 rumah. Desa ini sendiri dihuni oleh 1.570 jiwa.“Masyarakat kami cukup senang.
“Karena dulu, sebelum ada MCK dan sumur bor, kami cukup susah pergi ke sumur karena semua rumah-rumah sudah terdampak lumpur yang begitu tinggi,” kata Yusra, sewaktu dimintai tanggapan usai serah terima pada Minggu, 15 Februari 2026.
Donasi yang terkumpul untuk pembangunan MCK dan sumur bor meninggalkan sisa sebesar 16 juta rupiah lebih. Uang sisa ini nantinya akan dialamatkan untuk biaya pembangunan MCK dan sumur bor di desa-desa terdampak berikutnya.
Pembangunan fasilitas MCK dan sumur bor di wilayah terdampak banjir seperti yang dilakukan di Beurawang punya manfaat yang melampaui fungsinya sebagai tempat untuk aktivitas seperti mandi, cuci, kakus, semata.
MCK yang didukung oleh adanya air layak pakai amat menentukan kualitas hidup warga, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan. Selaku pihak yang selama ini ditempatkan pada garda terdepan dalam urusan-urusan domestik.
Fasilitas sanitasi yang serba terbatas menempatkan perempuan pada kondisi di mana mereka harus menyesap keadaan yang sama sekali tidak aman dan higienis. Selain itu, ruang privat yang minim berisiko terhadap gangguan kesehatan, mulai dari infeksi hingga masalah kesehatan reproduksi (kespro).
Keberadaan MCK yang didukung oleh ketersediaan air layak pakai punya keterdampakan pada hal-hal yang menyangkut dengan rasa aman sekaligus menopang martabat warga pengguna —terutama perempuan.
Peran besar MCK lainnya yakni dalam hal mencegah terjadinya praktik seperti buang air sembarangan yang berpotensi memperparah masa-masa pemulihan pascabencana bagi lingkungan.Tidak berlebihan jika pembangunan MCK dan sumur bor ini disebut sebagai investasi jangka panjang terutama dalam konteks kesehatan publik hingga ketahanan desa melalui keberadaan air sebagai bagian dari salah satu kebutuhan yang paling krusial.
Terutama bagi perempuan, lagi-lagi keberadaan fasilitas sanitasi berupa MCK dan sumur bor punya arti besar bagi upaya untuk menekan beban yang selama ini kerap menyaru di balik pembenaran-pembenaran patriarkal.
Rumah Putih hanyalah pihak yang menjembatani maksud baik di atas. Setiap inci dari pembangunan MCK dan sumur tersebut diisi oleh kebaikan-kebaikan yang di dalamnya terpatri nama orang-orang berhati besar.
Kawan-kawan dari Beujroh, Dhessy Badrina cs, Katrina cs, Mbak Suciwati (istri almarhum Munir), dan Sharrah Dzundza. Mereka berjasa besar dalam menggalang donasi dari orang-orang, yang kelak diperuntukan bagi pembangunan MCK dan sumur bor di Beurawang.
Tapi ingat, masih banyak desa dengan kebutuhan yang sama sedang menunggu kita!Tetap bersama dengan kami. Donasi dapat dikirimkan ke rekening Bank Danamon 003703745038 a.n. Yayasan Rumah Putih Bersama.[]





