+628116850330

info@yrpb.or.id

Hari Ini :

Projek Pembangunan MCK sebagai Bagian dari Keadilan Spasial bagi Kelompok Perempuan Penyintas Bencana

Penyerahan secara simbolis satu buah kloset sebagai tanda dimulai projek dua unit MCK di Kenawat (Dok. Rumah Putih)

Feb. 19, 2026

RUMAH Putih memfasilitasi Laboratorium Sosiologi Prodi Sosiologi FISIP USK dalam projek pembangunan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di dua desa yang terdapat di Kabupaten Aceh Tengah. Pembangunan fasilitas sanitasi ini merupakan kelanjutan dari upaya unuk mendukung pemulihan sosial berkeadilan gender pascabencana.

Desa yang dipilih adalah Kenawat dan Kala Segi. Kedua desa berada di Kecamatan Lut Tawar dan Bintang. Sebelumnya, berkat sumbangan dari pelbagai pihak, telah dilaksanakan pembangunan MCK plus sumur bor di Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Pembangunan fasilitas sanitasi seperti MCK saat ini menjadi prioritas mengingat perannya yang krusial sebagai infrastruktur dasar, guna menunjang pemulihan sosial serta kesehatan pascabencana. Ketakadaan fasilitas sanitasi yang memadai menempatkan kelompok rentan seperti perempuan pada tubir masalah kesehatan dan sosial.

Kebutuhan sanitasi yang layak di wilayah pascabencana juah lebih kompleks dari sekadar permasalahan yang disederhanakan sebagai kekurangan fasilitas belaka. Masalah ini menjadi jadi potret bagaimana ketimpangan menjadi jauh lebih lebar pada masa-masa krisis.

Dalam hal ini, ketubuhan perempuan menjadi titik konvergensi dari pelbagai masalah: mulai dari kesehatan, keamanan, hingga persoalan martabat. Ketakdaan akses MCK yang menjamin keamanan dan ruang privat memaksa perempuan menunda kebutuhan biologisnya yang berisiko mengganggu kesehatan.

Kondisi di Kenawat per 16 Februari 2026. Alat berat telah diturunkan ke desa yang berada di Kecamatan Lut Tawar tersebut beberapa waktu yang lalu untuk menggali lumpur berisi gelondongan kayu. Namun, lanskap desa masih tampak awut-awutan di beberapa titik (Dok. Rumah Putih)

Pilihan yang tersedia seperti menjangkau lokasi yang cukup jauh dan tersembunyi malah meningkatkan risiko kekerasan seksual yang berpeluang dialami oleh perempuan. Kebutuhan ini akan jauh lebih kompleks bagi para perempuan yang sedang menjalani siklus haid, hamil, atau reproduksi sosial (mencakup merawat bayi dsb).

Selain berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi dan martabat pribadi, kompleksitas tersebut juga berjalin-kelindan dengan penempatan sosial yang menaruh perempuan sebagai pihak yang harus memikul beban dalam merawat keluarga. Mulai dari anak-anak, lansia, hingga anggota keluarga yang sakit.

Keadaan diperparah oleh jam kerja domestik yang menjadi jauh lebih panjang dengan ketakadaan MCK yang layak. Sementara itu, semua orang tahu bahwa bencana banjir dan longsor yang menghembalang Sumatra telah mengambil banyak hal, termasuk merusak infrastruktur yang membuat ruang privat lenyap.

Mirisnya, kepentingan perempuan sering diabaikan pada masa-masa pemulihan pascabencana. Hulu dari masalah ini ialah penerapan dari perencanaan tanggap bencana yang seringkali terkesan netral gender di permukaan padahal jauh di dasar, mengabaikan pengalaman perempuan secara biologis dan sosial.

Pembangunan MCK yang tak mengindahkan hal-hal seperti pemisahan gender serta detail-detail keamanan seperti pencahayaan hanya akan menciptakan ruang eksklusif yang menakutkan bagi perempuan.

Penyerahan secara simbolis satu buah kloset sebagai tanda dimulai projek dua unit MCK di Kala Segi (Dok. Rumah Putih)

Karena itu, pembangunan MCK tak boleh disepelekan semata-mata sebagai projek teknis. Namun, juga sebagai upaya untuk menciptakan ruang gerak yang aman serta bermartabat, bagian dari praktik keadilan spasial bagi perempuan.

Desa pertama yang dikunjungi oleh tim Rumah Putih dan Lab Sosiologi FISIP USK di Takengon adalah Kenawat. Desa ini dihuni 393 Kepala Keluarga (KK) atau 1992 jiwa di mana jumlah rumah yang sama sekali tidak bisa dihuni sebanyak 32 rumah. Jumlah korban langsung dari bencana yang terjadi di Kenawat sebanyak 35 KK.

Menjelang tengah malam, longsor dari atas gunung datang bersama suara gemuruh. Gelondongan kayu yang digulung oleh air bah mengepung penduduk, menyisakan lanskap yang centang perenang.

Kawasan Kenawat kembali dilamun oleh banjir sewaktu hujan deras mendera wilayah itu pada awal tahun. Warga yang saat itu was-was pun mulai bersiap-siap untuk menghadapi banjir bandang susulan.

Sementara itu, Kala Segi merupakan desa yang dihuni oleh 138 KK atau 513 jiwa. Total rumah yang hilang akibat bencana mencapai puluhan.

Desa yang terletak di kawasan timur Lut Tawar ini berada tepat di kaki gunung Atu Kude. Jika di Kenawat banjir bandang datang bersama gelondongan kayu, di Kala Segi, longsor membawa bongkahan batu yang merusak pemukiman.

Terdapat empat bidang gelinciran longsor di Kala Segi. Jalan menuju ke desa tersebut baru bisa ditembus menginjak dua bulan sejak bencana meluluhlantakkan Aceh Tengah pada 26 November 2025 silam.

Jalan menuju ke Kala Segi tak lagi normal seperti dulu. Terdapat empat titik (Mendale, Mepar, Klaping, dan Ujung Paking, yang menandai adanya penerabasan jalan baru guna menyambung akses yang sebelumnya putus akibat longsor.

Per 17 Februari jalanan berupa makadam (bebatuan) masih tergolong rawan untuk dilalui. Terutama sewaktu hujan.

Sebagaimana desa-desa lain yang dihantam bencana, Kala Segi hancur mumur. Menginjak tiga bulan pascabencana, pemulihan masih terbilang jauh dari kata layak konon lagi sempurna —tenda-tenda BNPB masih berdiri di atas remukan bebatuan yang menyisakan mimpi buruk.

Projek pembangunan MCK di Kenawat dan Kala Segi distarter pada 16-17 Februari 2026, yang ditandai dengan penyerahan masing-masing sebuah kakus jongkok kepada perangkat desa. Dari Lab Sosiologi FISIP USK, hadir Nurul Fajri alias Moana, sementara Rumah Putih diwakili oleh Linda Djalil.[]

Rumah Putih akan terus mewarnai pemulihan pascabencana melalui pelbagai inisiatif berkeadilan gender melalui aksi-aksi kolaboratif. Kami membuka donasi yang nantinya akan diejawantah ke dalam pelbagai program dalam rangka mengurangi beban kerja tak terlihat yang dialami oleh perempuan.

Termasuk meningkatkan akses dan peran perempuan dalam kehidupan ekonomi pada masa krisis sehingga perempuan tidak hanya sebatas penerima bantuan, tetapi juga sebagai agen perubahan.

Bank Danamon 003703745038 a.n. Yayasan Rumah Putih Bersama

Artikel Terkait

Leave a Comment

Translate »