+628116850330

info@yrpb.or.id

Hari Ini :

MCK dan Air Bersih, Dua Kebutuhan Mendesak Penyintas Bencana Banjir di Pidie Jaya

Jan. 12, 2026

Satu bulan lebih bencana mengoyak Serambi Makkah, masalah lain menyela di atas lanskap yang centang perenang itu. Di Pidie Jaya, ketersediaan akan mandi, cuci, kakus (MCK) dan air bersih kini menjadi barang mewah.

Untuk buang air besar (BAB), warga terpaksa menggali tanah yang sebelumnya merupakan sedimen lumpur yang dibawa oleh banjir. Aktivitas ini berpotensi melahirkan masalah lain, yaitu kesehatan.

Warga juga mempunyai kebutuhan mendasar untuk kehidupan sehari-hari, yakni air. Dua hal ini, dirasa semakin genting mengingat bulan Ramadan tinggal menghitung hari.

Bagi perempuan, MCK dan air bersih bahkan jauh lebih urgen. Ini dikarenakan adanya faktor biologis, sosial, kesehatan, serta keamanan yang dalam situasi krisis sering kali berjalin-kelindan serta mengimpit perempuan.

Secara biologis, perempuan memiliki kebutuhan bawaan yang tidak dapat disederhanakan dan ditunda. Misal, perihal menstruasi, selain air bersih, perempuan juga berhadapan dengan masalah privasi dan sanitasi yang tidak layak.

Belum lagi jika bicara soal kebutuhan perempuan hamil dan perempuan yang sedang menjalani nifas yang berisiko terinfeksi apabila berinteraksi dengan air yang kotor atau telah tercemar. Selain itu, aktivitas memandikan, mencuci, dan membersihkan bayi dan anak juga amat bergantung pada ketersediaan air bersih dan fasilitas MCK yang layak.

Risiko infeksi saluran kemih, infeksi kulit, hingga infeksi reproduksi jauh lebih besar jika air bersih dan fasilitas MCK yang layak tidak tersedia. Di samping itu, karena sering berurusan dengan air untuk kebutuhan domestik, perempuan jauh lebih rentan terserang penyakit karena risiko paparan air yang tercemar.

Kebutuhan akan fasilitas MCK juga erat kaitannya dengan isu keamanan dan martabat. Tidak tersedianya MCK yang layak memaksa perempuan buang air besar di ruang terbuka bahkan menunggu hingga malam hari tiba —harus menghadapi risiko mengalami sembelit— demi privasi yang sebenarnya mengabaikan keselamatan, meningkatkan risiko pelecehan, bahkan pada titik tertentu, kondisi yang berkepanjangan ini menjadi stresor.

Pada level tersebut, perempuan yang dikonstruksikan sebagai sentrum ketahanan keluarga pada konteks domestik, akan menentukan apakah sebuah keluarga dapat bertahan dalam pemulihan pascabencana atau tidak. Jika perempuan jatuh sakit karena sanitasi yang buruk, maka dampaknya akan merembet ke seluruh sistem rumah tangga!

Kemendesakan ini mendorong Yayasan Rumah Putih Bersama (YRPB) berkolaborasi bersama sejumlah rekan berinisiatif membuat program pembangunan MCK dan sumur bor, untuk menjamin ketersediaan MCK yang layak serta air bersih. Adapun desa yang menjadi desa rintisan yakni Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Desa berpenghuni 1.570 jiwa ini merupakan salah satu wilayah dengan dampak paling fatal. Di Kecamatan Meureudu sendiri, jumlah korban jiwa sebanyak lima orang, sementara itu, sebagai kabupaten yang terdampak banjir dipicu Siklon Tropis Senyar akhir November lalu, total orang yang meninggal dunia di Kabupaten Pidie Jaya mencapai 31 orang.

Ekspose pemerintah setempat di situs resmi menyatakan sebanyak 18.144 jiwa terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke 72 titik pos pengungsian darurat yang tersebar di berbagai kecamatan. Kecamatan Meureudu menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yaitu 8.564 jiwa, diikuti Trienggadeng dan Panteraja.

Beberapa waktu lalu, Jumat, 2 Februari 2025, YRPB berkolaborasi bersama sejumlah rekan menyambangi Desa Beurawang. Sepanjang jalan sebelum sampai ke lokasi, mobil yang kami tumpangi menembus jalanan penuh debu.

Bukan sembarang debu, partikel halus yang kami hadapi adalah debu hasil endapan yang datang bersamaan dengan banjir, dan kini jadi masalah baru di Pidie Jaya. Kabupaten tersebut telah bersulih jadi daerah endemik debu, dengan bahaya lain yang mengancam: penyakit pernapasan.

Pemandangan lain yang menyambut kami yaitu batang-batang kayu yang seakan mencuat dari perut bumi, menyempal lintang pukang, dan menuding langit. Ini diakibatkan oleh gelondongan kayu yang dibawa oleh banjir bandang sewaktu datang menerjang.

Beberapa desa di Pidie Jaya kini teronggok kaku di dalam lumpur seatap rumah yang telah mengeras. Rumah-rumah yang tertanam itu tidaklah mungkin dimasuki, konon lagi untuk dihuni. 

Melalui donasi yang awalnya tertutup, dana yang berhasil dikumpulkan sebanyak Rp16.394.000,00. Setelah bermusyawarah dengan perangkat desa, dalam hal ini kepala desa Beurawang, Yusra, total biaya untuk pembangunan MCK dan sumur bor sebesar Rp25.400.000,00. 

Namun, terdapat minus Rp9.006.000,00 dari total dana yang dibutuhkan agar program tersebut terlaksana. Kekurangan ini akhirnya tertutupi berkat adanya sokongan dari Beujröh, sebuah organisasi lokal yang dulu sempat mengisi masa-masa rehab-rekon (baca: rehabilitasi dan rekonstruksi) pascabencana gempa dan tsunami Aceh 2004.

Tentunya program pembangunan MCK dan sumur bor di Beurawang bukanlah penutup. Ia serupa titik tolak di mana hal-hal baik lainnya akan segera dimulai.[]

Rekening donasi Bank Danamon 003703745038 a.n. Yayasan Rumah Putih Bersama.

Artikel Terkait

Leave a Comment

Translate »